Trip kali ini
kita akan explore daerah Cikini untuk
explore Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Rumah Sakit PG Cikini, Pasar
Antik Surabaya, Masjid Cut Meutia dan Gedung Joang 45.
Trip dimulai
dari Planetarium. Di Planetarium kita bisa menikmati Pertunjukan dan Museum
Antariksa. Bagi anda yang ingin menonton pertunjukan tersebut disarankan untuk
datang 3jam lebih awal sebelum loket
dibuka. Dkarenakan antusiasme dari masyarakat yang sangat tinggi untuk melihat
pertunjukan tersebut.
Dalam setiap
pertunjukan tersedia 320 tiket untuk kursi dan 150 tiket untuk yang tanpa duduk
di kursi. Planetarium mengadakan 2 kali pertunjukan setiap harinya yaitu pukul
10.00 dan 14.00. Adapun harga tiket untuk dewasa sebesar Rp 12.000 dan anak-anak
Rp 7.000. Pertunjukan Planetarium mempertontonkan rasi bintang dan susunan tata surya. Dengan
menonton pertunjukan Planetarium kita bisa menambah pengetahuan tentang luar
angkasa, sehingga kita bisa mengetahui betapa luasnya luasnya alam semesta dan
betapa hebatnya ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah menonton pertunjukan
dilanjutkan dengan melihat museum Luar Angkasa yang berada di Planetarium.
Setelah kita
mengunjungi Planetarium selanjutnya kita mengunjungi Taman Ismail marzuki. Di
Taman Ismail Marzuki kita bisa melakukan sesi foto di skitar gedung Theater
Ismail Marzuki. Di Gedung yang telah direnovasi, banyak tempat yang bagus untuk
mealkukan sesi pemotretan. Gedung Ismail Marzuki dibangun dengan tujuan supaya
ada tempat pertunjukan Orkestra yang bertaraf internasional di
Jakarta.Pemilihan Nama Ismail Marzuki adalah karena kiprah Ismail Marzuki di
dunia seni yang mana beliau adalah komponis terkenal sejak 1931 hingga 1958.
Trip selanjutnya
adalah Rumah Sakit Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Cikini yang berjarak sekitar
950meter dari Taman Ismail Marzuki yang ditempuh dengan berjalan kaki. Sakit PGI Cikini dulunya merupakan rumah
tinggal Raden Saleh yang mana Rumah sakit tersebut dibangun pada masa
penjajahan Belanda. Kelebihan dari Rumah Sakit ini adalah pelayanannya yang
merata dan tidak membeda-bedakan suku dan ras. Bahkan dizaman Belandapun orang
pribumi bisa berobat gratis. Untuk zaman sekarang bisa mengunakan BPJS untuk
berobat. Rumah Sakit PGI Cikini mendapat bantuan dana dari Amerika untuk
renovasi gedung. Hal tersebut dikarenakan jasa Raden Saleh untuk dunia kesenian
Eropa.
Setelah
mengunjungi Rumah Sakit PGI Cikini, perjalanan dilanjutkan dengan berkunjung ke
Masjid Jami’ Cikini Al-Mahmur untuk melaksanakan sholat dzuhur. Masjid ini sudah
ada sejak zaman Belanda dan sering digunakan untuk mengatur strategi melawan
dan bersembunyi dari kejaran tentara Belanda.
Setelah sholat
di Masjid Jami’ Cikini Al-Mahmur perjalanan dilanjutkan menuju Pasar Antik
Jalan Surabaya dengan jarak 1,4KM yang ditempuh dengan berjalan kaki. Di Jalan
Surabaya kita bisa melihat atau membeli barang antik atau hanya sekedar
berfoto-foto disepanjang Jalan Surabaya.
Setelah puas
berjalan-jalan di Jalan Surabaya, selanjutnya kita mengunjungi Gedung Joang 45
yang berjarak sekitar 1,8KM ditempuh dengan berjalan kaki. Gedung Joang 45
ddulunya digunakan oleh penjajah Jepang untuk melatih pemuda Indonesia
propaganda Jepang. Akan tetapi pemuda Indonesia memanfaatkan untuk propaganda
kemerdekaan Indonesia. Di Gedung Joang 45 kita bisa melihat sejarah kemerdekaan
Indonesia. Kita bisa melihat peninggalan perlengkapan tentara Jepang dan PETA.
Selain itu kita juga bisa melihat miniatur kapal Renville tempat diadakannya perjanjian
Renville. Disini terdapat mobil peninggalan Presiden Soekarno dan Mohammad
Hatta.
Adapun tujuan
trip terakir adalah Masjid Cut Meutia. Masjid Cut Meutia memiliki keunikan
yaitu kiblatnya miring. Hal ini disebabkan dulu Gedung Masjid Cut Meutia tidak
dibangun sebagai Masjid. Hal ini menyebabkan arah Bangunan tidak menghadap
kilblat.






